Program Pondok Pesantren Asyrofuddin 2012

  1. Pengajian Kitab Kuning
  2. Jamiyyah Taqorruban
  3. Halaqoh hadromiyah
  4. Jamiyyah Qosidah Burdah
  5. Jamiyyah Khitobah
  6. Qiroatul Quran
  7. Kesenian Burdah
  8. Pengembangan Bahasa Asing
  9. Keterampilan Agribisnis Perikanan
  10. Keterampilan Pertanian Terpadu
  11. Keterampilan Pembangunan Rumah
  12. Pengembangan Wirausaha Pesantren (Koperasi)
  13. Pos Kesehatan Pondok Pesantren
  14. Madrasah Diniyah Awaliyah
  15. Raudlatul Athfal Asyrofuddin
  16. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Asyrofuddin
  17. Madrasah Aliyah (MA) Asyrofuddin
  18. SMK Ardli Sela (jurusan: Teknik Informatika)
  19. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asyrofuddin
  20. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH)
  21. Pengajian umum kitab Mafahim Yajib Antusohah (oleh: Habib Miqdad Baharun)
  22. Pengajian umum rutin di bulan Syawal, Dzulhijjah, Rabiul Awal, dan Rajab

Anggaran Dasar Pondok Pesantren

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD-ART)

PONDOK PESANTREN ASYROFUDDIN

CIPICUNG PESANTREN-CONGGEANG-SUMEDANG

BAB  I

NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN

DAN JANGKA WAKTU

 

Pasal  1

 

  1. Pondok pesantren ini pada awalnya bernama Pesantren Ardli Sela Singa Naga sejak tahun 1846 sampai dengan 1965.
  2. Kemudian nama ini diperbaharui oleh Almarhum Almaghfurlah KH.R.Endang Buchorie. UM. dengan nama Pondok Pesantren Asyrofuddin sebagai tafaulan kepada pendiri sejak tahun 1965 sampai sekarang.

Pasal 2

 

Pesantren ini berkedudukan di Dusun Cipicung Pesantren, Desa Conggeang Wetan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat dan dapat membentuk perwakilan/cabang jika diperlukan untuk kepentingan Dakwah Islamiyah.

 

Pasal 3

 

Pesantren ini didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

BAB  II

VISI, MISI, LANDASAN, AZAS DAN PRINSIP

 

Visi

 

  1. Pesantren merupakan syiar tholab al ‘ilmi dan sumber pengetahuan Islam untuk mencapai Ridho Allah SWT.
  2. 2.        Mencetak kader-kader ulama dan menciptakan masyarakat islami yang berhaluan ahlu sunnah wal jamaah.

 

Misi

 

  1. Mempersiapkan pribadi umat yang berilmu pengetahuan, berakhlak mulia, dan berkhidmat kepada agama, masyarakat dan negara.
  2. 2.        Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum menuju terbentuknya kader ulama yang taqwa.

 

 

 

 

Landasan

Pasal  4

 

Pesantren ini berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadits, Ijma, Qiyas serta perundangan  yang berlaku.

Azas

Pasal 5

 

Pesantren ini berazas kepada: Taat pada Agama/Hukum, Berakhlaqul Karimah,  Kegiatan Dakwah/Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi dan Solidaritas Sosial serta tidak berapiliasi pada Partai Politik tertentu (Independen).

Prinsip

Pasal 6

 

Prinsip dasar  pengurus dan anggota Pondok Pesantren Asyrofuddin:

  1. Keikhlasan
  2. Kekeluargaan,
  3. Kebersamaan,
  4. Kemandirian,
  5. Keterbukaan, dan
  6. Kejujuran.

 

 

BAB  III

FUNGSI, PERAN, TUJUAN DAN USAHA

 

Fungsi

Pasal  7

 

Pesantren  berfungsi  sebagai pusat tholab al-`ilmi, pembinaan akhlaq al-karimah, kegiatan dakwah, pengembangan keterampilan, dan kepedulian sosial di lingkungan Pondok Pesantren Asyrofuddin dan masyarakat pada umumnya.

 

Peran

Pasal 8

 

Pesantren berperan :

  1. Merintis, menyelenggarakan dan membina kegiatan-kegiatan pendidikan dakwah dan kegiatan sosial di Pondok Pesantren Asyrofuddin.
  2. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka kegiatan kepesantrenan.
  3. Mempublikasikan seluruh kegiatan yang ada dalam binaan Pondok Pesantren Asyrofuddin.

Tujuan

Pasal 9

 

  1. Terwujudnya generasi yang berakhlaq al karimah.
  2. Terbentuknya generasi yang berpengetahuan luas dan berkhidmat pada masyarakat.
  3. Melindungi secara legal terhadap kegiatan-kegiatan positif  yang ada di dalam dan di luar lingkungan pesantren.
  4. Meningkatkan kualitas akhlaq, ibadah, skill, dakwah para santri  dan para alumni.

Usaha

Pasal 10

 

  1. Pesantren berhak untuk mendirikan yayasan, perusahaan dan menerima bantuan dari berbagai pihak yang halal dan tidak mengikat.
  2. Untuk menunjang hasil usaha, pesantren bekerjasama dengan Koperasi Pesantren dan Yayasan.
  3. Segala bentuk bantuan dan usaha yang diterima pesantren di kelola sesuai dengan bidangnya masing-masing.

 

BAB IV

LAMBANG

 

Bentuk Lambang

Pasal 11

 

 

Isi Lambang

Pasal 12

 

Isi lambang berupa gambar masjid dengan dua menara dan enam sinar di atasnya dengan sembilan bintang dan dilingkup dalam lingkaran, serta dibawah masjid dengan lima jendela, kitab dan kalam dibawahnya.

 

Warna lambang

Pasal  13

 

  1. Warna putih melambangkan kesucian hati dan pikiran untuk penyebaran Islam.
  2. Warna kuning emas melambangkan kesejahteraan.
  3. Warna hijau merupakan lambang perdamaian.

 

 

 

Makna Unsur dari Lambang

Pasal 14

 

  1. Bentuk bulat merupakan kebulatan tekad untuk syi`ar dimana pesantren sebagai pusat penyebaran Syari`at Islam.
  2. 2.        Kitab dan pena merupakan simbol tholab al`ilmi.
  3. Sembilan bintang merupakan simbol dari penyebaran Agama Islam di tanah jawa oleh Wali Songo.
  4. Tiga sinar di atas kubah merupakan tiga pilar Iman, Islam,dan Ihsan.

 

BAB V

KEUANGAN

Pasal  15

 

Pembiayaan  pendidikan/kegiatan  Pesantren Asyrofuddin  berasal dari:

  1. Ta`awun santri sesuai dengan ketentuan pondok pesantren.
  2. Para donatur dan simpatisan  keluarga besar Pondok Pesantren Asyrofuddin.
  3. Bantuan lain yang halal dan  tidak mengikat dari lembaga/instansi Pemerintah maupun Swasta.

 

BAB  VI

KEPENGURUSAN

Pasal  16

  1. Pengurus pesantren adalah keluarga besar Pondok Pesantren  Asyrofuddin yang dipilih berdasarkan hasil musyawarah mufakat.
  2. Masa khidmat kepengurusan selama 4 (empat) tahun.

 

 

BAB VII

SUSUNAN PENGURUS  DAN TUGAS-TUGAS POKOK

PENGURUS

Pasal 17

Komponen  pengurus Pondok Pesantren Asyrofuddin terdiri atas Dewan Masyayikh, Dewan Pengurus dan Dewan Santri.

 

Tugas  Pokok

Pasal 18

  1. Tugas pengurus adalah menyelenggarakan keorganisasian dalam kegiatan pondok pesantren sesuai dengan amanahnya masing-masing, secara rinci dijabarkan dalam lampiran.
  2. Tugas pokok   dalam Anggaran Dasar ini   berupa tugas  komponen  inti pondok pesantren,  yaitu: Dewan Masyayikh, Dewan Pengurus dan Dewan Santri.

 

Tugas-tugas  tersebut  adalah :

  1. Dewan Masyayikh bertugas membimbing, mengayomi, dan memberi nasehat/pertimbangan.
  2. Dewan Pengurus bertugas untuk membina, membimbing, mengarahkan segala bentuk kegiatan pesantren.
  3. Dewan Santri bertugas melaksanakan segala bentuk kegiatan yang telah disepakati oleh Dewan Pengurus.

 

 

 

BAB  VIII

MEKANISME  PENGANGKATAN PENGURUS  PONDOK PESANTREN

 

Mekanisme Pengangkatan

Pasal 19

 

  1. Pimpinan Pondok Pesantren bersifat politis, kolektif, serta fleksibel dengan terjadinya  rotasi secara otomatis dari anggota Dewan Pengurus yang terikat oleh keluarga besar pondok pesantren.
  2. Pimpinan Pondok Pesantren dapat menunjuk seseorang untuk menjadi Pengurus Pesantren dengan mengutamakan personal  dari  Dewan Pengurus serta disetujui oleh Dewan Masyayikh.

 


BAB IX

MUSYAWARAH

Pasal 20

 

Musyawarah Pondok Pesantren, terdiri atas :

  1. Musyawarah Besar 4 (empat) Tahunan
  2. Musyawarah Tahunan
  3. Musyawarah Kerja
  4. Musyawarah Insidental

 

Musyawarah Besar Empat Tahunan

Pasal  21

 

  1. Musyawarah Besar Empat Tahunan adalah musyawarah yang terjadi 4 tahun sekali dimana agendanya adalah  meninjau kembali Anggaran Dasar, memperbaiki dan menambah muatan materi jika dipandang perlu yang dihadiri oleh minimal 2/3 anggota Dewan Pengurus dan Dewan Masyayikh.
  2. Musyawarah Besar  diselenggarakan  pada acara reshufle kepengurusan pondok pesantren.
  3. Meminta pertanggung jawaban kepengurusan pondok pesantren dalam satu periode kepengurusan.
  4. Memilih pengurus pondok pesantren baru dan atau menetapkan kembali pengurus yang telah diterima pertanggung jawabannya secara aklamasi.

 

Musyawarah Tahunan

Pasal 22

 

Musyawarah Tahunan adalah evaluasi program-program yang telah diimplementasikan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun, sekurang-kurangnya dihadiri oleh  1/2 Dewan Pengurus dan beberapa orang Dewan Masyayikh.

 

 

Musyawarah Kerja

Pasal 23

 

  1. Musyawarah Kerja adalah musyawarah rutin setiap 6 (enam)  bulan sekali dalam rangka mempersiapkan agenda kerja  nishfu sanah  pada masing-masing bidang.
  2. Dalam tugas nishfu sanah, masing-masing bidang menyampaikan laporan kegiatan  kepada Pimpinan Pondok Pesantren  atau petugas yang ditunjuk pimpinan.

 

Musyawarah Insidental

Pasal 24

 

  1. Musyawarah Insidental adalah musyawarah yang dilaksanakan sewaktu-waktu apabila diperlukan.
  2. Dalam hal-hal tertentu yang bersifat darurat, akan dilaksanakan musyawarah dengan ketentuan harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga)  orang Dewan Pengurus Pesantren.
  3. Dalam menghadapi situasi  pada point 2 (dua)  jika diperlukan, Pimpinan Pondok Pesantren dapat membentuk Dewan Kehormatan yang berkoordinasi dengan Dewan Masyayikh.

 

 

 

BAB  X

QUORUM MUSYAWARAH TAHUNAN

 

Pasal 25

 

  1. Musyawarah Tahunan dapat mengambil keputusan dengan cara aklamasi dengan dihadiri oleh  sekurang-kurangnya 2/3  peserta rapat dari seluruh anggota Dewan Pengurus dan Dewan Masyayikh.
  2. Musyawarah Kerja merupakan rapat evaluasi kerja dan menyusun program kerja.
  3. Rapat Insidental dapat dilakukan sewaktu-waktu jika dipandang perlu.
  4. Dalam hal terjadi musyawarah darurat dapat diambil keputusan  oleh  Dewan Kehormatan yang ditunjuk oleh Pimpinan Pondok Pesantren.

 

BAB XI

PERUBAHAN DAN PERALIHAN

Pasal 26

 

Kepengurusan Pondok Pesantren ini dapat dibubarkan atau di reshufle atas  keputusan Musyawarah Besar yang dihadiri oleh  sekurang-kurangnya 2/3 peserta hadir rapat, yang terdiri dari Dewan Masyayikh, dan Dewan Pengurus Pondok Pesantren.

 

 

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasal 27

 

  1. Untuk yang pertama kalinya Anggaran  Dasar itu dapat ditinjau dan direvisi kembali melalui kegiatan Musyawarah Insidental darurat  dengan mengacu kepada quorum Musyawarah Besar.
  2. Hal-hal yang belum diatur dan belum rinci akan diatur di kemudian hari apabila diperlukan.


SEJARAH PONDOK PESANTREN ASYROFUDDIN


Pesantren dapat berkembang di Sumedang karena mendapat dukungan penuh dari para bupati dengan cara mewakafkan tanahnya, memasukkan anaknya ke pesantren, melindungi pesantren, dan lain-lain. Pangeran Kusumadinata IX atau Pangeran Kornel, Bupati Sumedang (1791-1828) mewakafkan tanahnya di daerah Condong, Cibeureum, Tasikmalaya kepada Kyai Nawawi. Di atas tanah wakaf itu, sekitar abad ke-18 berdirilah Pesantren Riyadul Ulum Waddakwah atau lebih dikenal dengan nama Pesantren Condong.15 Pesantren tertua di Tasikmalaya ini sampai sekarang masih eksis dan mampu mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan tradisi salafinya.

Pesantren tua lainnya yang ada di Sumedang adalah Pesantren Asyrofudin yang terletak di Desa Cipicung, Kecamatan Conggeang. Pesantren ini didirikan tahun 1846 oleh Hadratusyekh K. R. Asyrofuddin yang masih keturunan Pangeran Syamsuddin I dari Keraton Kasepuhan Cirebon.17 Pesantren ini didirikan bukan sebagai bagian dari proses penyebaran agama Islam, melainkan sebagai reaksi terhadap politik kolonial Belanda di Cirebon sekitar abad ke-18.

Dikisahkan dalam sebuah sumber, ketika Sultan Sepuh usianya telah uzur, ia memanggil Asyrofuddin untuk diserahi jabatan sebagai sultan menggantikan dirinya. Dalam pertemuan itu, Asyrofuddin bersedia memangku jabatan sebagai sultan dengan syarat orang Belanda tidak boleh mencampuri urusan pemerintahan di daerah Cirebon. Syarat yang diajukan oleh Asyrofuddin itu tidak bisa dipenuhi ayahnya karena terikat kontrak politik warisan sultan sebelumnya. Pertentangan itu mendorong terjadinya konflik antara ayah dan anaknya karena masing-masing pihak mempertahankan keinginannya. Konflik itu berakhir dengan diusirnya Asyrofuddin dari Cirebon dan ia meninggalkan kampung halamannya menuju Kampung Cikuleu di Ujung Jaya yaitu perbatasan antara Sumedang dan Majalengka.

Di Cikuleu, Asyrofuddin menyelenggarakan pengajian bagi penduduk setempat. Pengajian tersebut ternyata mendapat respons positif sehingga selalu banyak yang menghadiri. Dari waktu ke waktu, pengajian itu tidak hanya dihadiri oleh penduduk setempat, melainkan juga dihadiri oleh penduduk yang berasal dari luar kampung Cikuleu. Oleh karena itu, di sekitar masjid tempat Asyrofuddin menyelenggarakan pengajian, didirikanlah semacam pondok sebagai tempat tinggal mereka. Pengajian yang diselenggarakan oleh Asyrofuddin berbeda dengan pengajian pada umumnya karena yang diberikan bukan hanya masalah keagamaan, tetapi juga masalah politik dalam rangka menghadapi Belanda.20 Dalam perkembangan selanjutnya, pengajian yang diselenggarakan oleh Asyrofuddin itu berubah menjadi sebuah pesantren.

Keberadaan Pesantren Cikuleu akhirnya diketahui oleh Pangeran Aria Suria Kusuma Adinata atau Pangeran Sugih, Bupati Sumedang (1836-1882), tatkala sedang berkeliling di daerah tersebut. Setelah mengetahui keberadaan Pesantren Cikuleu, Pangeran Sugih mendekati Kyai Asyrofuddin bahkan memasukkan Aom Sadeli (putranya, kelak dikenal dengan nama Pangeran Mekah) ke pesantren tersebut. Tidak lama kemudian, Pangeran Sugih meminta Kyai Asyrofuddin untuk memindahkan pesantrennya ke daerah Cipicung yang terletak di daerah Conggeang. Kyai Asyrofuddin memenuhi permintaan tersebut dan pada 1846 secara resmi berdirilah sebuah pesantren di Cipicung dibawah pimpinan Kyai Asyrofuddin di atas tanah wakaf pemberian Pangeran Sugih seluas 3,5 hektare. Sementara itu, Pesantren Cikuleu diserahkan kepada putranya yang bernama K. R. H. Abdul Hamid. Akan tetapi, Pesantren Cikuleu ini tidak berkembang sepeninggalnya Kyai Abdul Hamid. Anaknya yang masih kecil dibawa oleh Kyai Asyrofuddin ke Pesantren Ardli Sela untuk dididik keagamaan. Meskipun tidak berkembang, di daerah bekas berdirinya kompleks Pesantren Cikuleu, masyarakat menamainya Jalan Pesantrean atau Blok Pesantren. Di Cipicung, Kyai Asyrofuddin berusaha membangun pesantrennya itu sehingga santri yang belajar kepada dirinya semakin banyak. Sikapnya kepada Belanda pun tidak berubah, seperti ia menanam karet di sekitar pesantren padahal pada waktu itu Pemerintah Hindia Belanda melarang rakyat untuk menanam karet. Pada 1874, Kyai Asyrofuddin meninggal dunia dan kedudukannya digantikan oleh cucunya, K. R. Mas’un (putera K. H. Abdul Hamid). Di bawah kepemimpinannya, Pesantren Cipicung semakin berkembang. Ketika bangsa Indonesia memasuki masa Perang Kemerdekaan, Pesantren Cipicung dijadikan tempat berkumpulnya para pejuang dan tempat pengungsian rakyat. Sepeninggal K. R. Mas’un tahun 1947, Pesantren Cipicung berada di bawah kepemimpinan K. R. Ukun Muhammad Sholeh. Sementara itu, penggunaan nama Asyrofuddin sebagai nama pesantren dimulai pada 1965 ketika pesantren berada di bawah kepemimpinan Kyai Bukhorie Ukasyah Mubarok. Sampai sekarang, Pesantren Asyrofuddin tetap eksis sebagai lembaga pendidikan di Kabupaten Sumedang.