Anggaran Dasar Pondok Pesantren

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD-ART)

PONDOK PESANTREN ASYROFUDDIN

CIPICUNG PESANTREN-CONGGEANG-SUMEDANG

BAB  I

NAMA, TEMPAT KEDUDUKAN

DAN JANGKA WAKTU

 

Pasal  1

 

  1. Pondok pesantren ini pada awalnya bernama Pesantren Ardli Sela Singa Naga sejak tahun 1846 sampai dengan 1965.
  2. Kemudian nama ini diperbaharui oleh Almarhum Almaghfurlah KH.R.Endang Buchorie. UM. dengan nama Pondok Pesantren Asyrofuddin sebagai tafaulan kepada pendiri sejak tahun 1965 sampai sekarang.

Pasal 2

 

Pesantren ini berkedudukan di Dusun Cipicung Pesantren, Desa Conggeang Wetan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat dan dapat membentuk perwakilan/cabang jika diperlukan untuk kepentingan Dakwah Islamiyah.

 

Pasal 3

 

Pesantren ini didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

BAB  II

VISI, MISI, LANDASAN, AZAS DAN PRINSIP

 

Visi

 

  1. Pesantren merupakan syiar tholab al ‘ilmi dan sumber pengetahuan Islam untuk mencapai Ridho Allah SWT.
  2. 2.        Mencetak kader-kader ulama dan menciptakan masyarakat islami yang berhaluan ahlu sunnah wal jamaah.

 

Misi

 

  1. Mempersiapkan pribadi umat yang berilmu pengetahuan, berakhlak mulia, dan berkhidmat kepada agama, masyarakat dan negara.
  2. 2.        Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum menuju terbentuknya kader ulama yang taqwa.

 

 

 

 

Landasan

Pasal  4

 

Pesantren ini berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadits, Ijma, Qiyas serta perundangan  yang berlaku.

Azas

Pasal 5

 

Pesantren ini berazas kepada: Taat pada Agama/Hukum, Berakhlaqul Karimah,  Kegiatan Dakwah/Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi dan Solidaritas Sosial serta tidak berapiliasi pada Partai Politik tertentu (Independen).

Prinsip

Pasal 6

 

Prinsip dasar  pengurus dan anggota Pondok Pesantren Asyrofuddin:

  1. Keikhlasan
  2. Kekeluargaan,
  3. Kebersamaan,
  4. Kemandirian,
  5. Keterbukaan, dan
  6. Kejujuran.

 

 

BAB  III

FUNGSI, PERAN, TUJUAN DAN USAHA

 

Fungsi

Pasal  7

 

Pesantren  berfungsi  sebagai pusat tholab al-`ilmi, pembinaan akhlaq al-karimah, kegiatan dakwah, pengembangan keterampilan, dan kepedulian sosial di lingkungan Pondok Pesantren Asyrofuddin dan masyarakat pada umumnya.

 

Peran

Pasal 8

 

Pesantren berperan :

  1. Merintis, menyelenggarakan dan membina kegiatan-kegiatan pendidikan dakwah dan kegiatan sosial di Pondok Pesantren Asyrofuddin.
  2. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka kegiatan kepesantrenan.
  3. Mempublikasikan seluruh kegiatan yang ada dalam binaan Pondok Pesantren Asyrofuddin.

Tujuan

Pasal 9

 

  1. Terwujudnya generasi yang berakhlaq al karimah.
  2. Terbentuknya generasi yang berpengetahuan luas dan berkhidmat pada masyarakat.
  3. Melindungi secara legal terhadap kegiatan-kegiatan positif  yang ada di dalam dan di luar lingkungan pesantren.
  4. Meningkatkan kualitas akhlaq, ibadah, skill, dakwah para santri  dan para alumni.

Usaha

Pasal 10

 

  1. Pesantren berhak untuk mendirikan yayasan, perusahaan dan menerima bantuan dari berbagai pihak yang halal dan tidak mengikat.
  2. Untuk menunjang hasil usaha, pesantren bekerjasama dengan Koperasi Pesantren dan Yayasan.
  3. Segala bentuk bantuan dan usaha yang diterima pesantren di kelola sesuai dengan bidangnya masing-masing.

 

BAB IV

LAMBANG

 

Bentuk Lambang

Pasal 11

 

 

Isi Lambang

Pasal 12

 

Isi lambang berupa gambar masjid dengan dua menara dan enam sinar di atasnya dengan sembilan bintang dan dilingkup dalam lingkaran, serta dibawah masjid dengan lima jendela, kitab dan kalam dibawahnya.

 

Warna lambang

Pasal  13

 

  1. Warna putih melambangkan kesucian hati dan pikiran untuk penyebaran Islam.
  2. Warna kuning emas melambangkan kesejahteraan.
  3. Warna hijau merupakan lambang perdamaian.

 

 

 

Makna Unsur dari Lambang

Pasal 14

 

  1. Bentuk bulat merupakan kebulatan tekad untuk syi`ar dimana pesantren sebagai pusat penyebaran Syari`at Islam.
  2. 2.        Kitab dan pena merupakan simbol tholab al`ilmi.
  3. Sembilan bintang merupakan simbol dari penyebaran Agama Islam di tanah jawa oleh Wali Songo.
  4. Tiga sinar di atas kubah merupakan tiga pilar Iman, Islam,dan Ihsan.

 

BAB V

KEUANGAN

Pasal  15

 

Pembiayaan  pendidikan/kegiatan  Pesantren Asyrofuddin  berasal dari:

  1. Ta`awun santri sesuai dengan ketentuan pondok pesantren.
  2. Para donatur dan simpatisan  keluarga besar Pondok Pesantren Asyrofuddin.
  3. Bantuan lain yang halal dan  tidak mengikat dari lembaga/instansi Pemerintah maupun Swasta.

 

BAB  VI

KEPENGURUSAN

Pasal  16

  1. Pengurus pesantren adalah keluarga besar Pondok Pesantren  Asyrofuddin yang dipilih berdasarkan hasil musyawarah mufakat.
  2. Masa khidmat kepengurusan selama 4 (empat) tahun.

 

 

BAB VII

SUSUNAN PENGURUS  DAN TUGAS-TUGAS POKOK

PENGURUS

Pasal 17

Komponen  pengurus Pondok Pesantren Asyrofuddin terdiri atas Dewan Masyayikh, Dewan Pengurus dan Dewan Santri.

 

Tugas  Pokok

Pasal 18

  1. Tugas pengurus adalah menyelenggarakan keorganisasian dalam kegiatan pondok pesantren sesuai dengan amanahnya masing-masing, secara rinci dijabarkan dalam lampiran.
  2. Tugas pokok   dalam Anggaran Dasar ini   berupa tugas  komponen  inti pondok pesantren,  yaitu: Dewan Masyayikh, Dewan Pengurus dan Dewan Santri.

 

Tugas-tugas  tersebut  adalah :

  1. Dewan Masyayikh bertugas membimbing, mengayomi, dan memberi nasehat/pertimbangan.
  2. Dewan Pengurus bertugas untuk membina, membimbing, mengarahkan segala bentuk kegiatan pesantren.
  3. Dewan Santri bertugas melaksanakan segala bentuk kegiatan yang telah disepakati oleh Dewan Pengurus.

 

 

 

BAB  VIII

MEKANISME  PENGANGKATAN PENGURUS  PONDOK PESANTREN

 

Mekanisme Pengangkatan

Pasal 19

 

  1. Pimpinan Pondok Pesantren bersifat politis, kolektif, serta fleksibel dengan terjadinya  rotasi secara otomatis dari anggota Dewan Pengurus yang terikat oleh keluarga besar pondok pesantren.
  2. Pimpinan Pondok Pesantren dapat menunjuk seseorang untuk menjadi Pengurus Pesantren dengan mengutamakan personal  dari  Dewan Pengurus serta disetujui oleh Dewan Masyayikh.

 


BAB IX

MUSYAWARAH

Pasal 20

 

Musyawarah Pondok Pesantren, terdiri atas :

  1. Musyawarah Besar 4 (empat) Tahunan
  2. Musyawarah Tahunan
  3. Musyawarah Kerja
  4. Musyawarah Insidental

 

Musyawarah Besar Empat Tahunan

Pasal  21

 

  1. Musyawarah Besar Empat Tahunan adalah musyawarah yang terjadi 4 tahun sekali dimana agendanya adalah  meninjau kembali Anggaran Dasar, memperbaiki dan menambah muatan materi jika dipandang perlu yang dihadiri oleh minimal 2/3 anggota Dewan Pengurus dan Dewan Masyayikh.
  2. Musyawarah Besar  diselenggarakan  pada acara reshufle kepengurusan pondok pesantren.
  3. Meminta pertanggung jawaban kepengurusan pondok pesantren dalam satu periode kepengurusan.
  4. Memilih pengurus pondok pesantren baru dan atau menetapkan kembali pengurus yang telah diterima pertanggung jawabannya secara aklamasi.

 

Musyawarah Tahunan

Pasal 22

 

Musyawarah Tahunan adalah evaluasi program-program yang telah diimplementasikan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun, sekurang-kurangnya dihadiri oleh  1/2 Dewan Pengurus dan beberapa orang Dewan Masyayikh.

 

 

Musyawarah Kerja

Pasal 23

 

  1. Musyawarah Kerja adalah musyawarah rutin setiap 6 (enam)  bulan sekali dalam rangka mempersiapkan agenda kerja  nishfu sanah  pada masing-masing bidang.
  2. Dalam tugas nishfu sanah, masing-masing bidang menyampaikan laporan kegiatan  kepada Pimpinan Pondok Pesantren  atau petugas yang ditunjuk pimpinan.

 

Musyawarah Insidental

Pasal 24

 

  1. Musyawarah Insidental adalah musyawarah yang dilaksanakan sewaktu-waktu apabila diperlukan.
  2. Dalam hal-hal tertentu yang bersifat darurat, akan dilaksanakan musyawarah dengan ketentuan harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga)  orang Dewan Pengurus Pesantren.
  3. Dalam menghadapi situasi  pada point 2 (dua)  jika diperlukan, Pimpinan Pondok Pesantren dapat membentuk Dewan Kehormatan yang berkoordinasi dengan Dewan Masyayikh.

 

 

 

BAB  X

QUORUM MUSYAWARAH TAHUNAN

 

Pasal 25

 

  1. Musyawarah Tahunan dapat mengambil keputusan dengan cara aklamasi dengan dihadiri oleh  sekurang-kurangnya 2/3  peserta rapat dari seluruh anggota Dewan Pengurus dan Dewan Masyayikh.
  2. Musyawarah Kerja merupakan rapat evaluasi kerja dan menyusun program kerja.
  3. Rapat Insidental dapat dilakukan sewaktu-waktu jika dipandang perlu.
  4. Dalam hal terjadi musyawarah darurat dapat diambil keputusan  oleh  Dewan Kehormatan yang ditunjuk oleh Pimpinan Pondok Pesantren.

 

BAB XI

PERUBAHAN DAN PERALIHAN

Pasal 26

 

Kepengurusan Pondok Pesantren ini dapat dibubarkan atau di reshufle atas  keputusan Musyawarah Besar yang dihadiri oleh  sekurang-kurangnya 2/3 peserta hadir rapat, yang terdiri dari Dewan Masyayikh, dan Dewan Pengurus Pondok Pesantren.

 

 

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasal 27

 

  1. Untuk yang pertama kalinya Anggaran  Dasar itu dapat ditinjau dan direvisi kembali melalui kegiatan Musyawarah Insidental darurat  dengan mengacu kepada quorum Musyawarah Besar.
  2. Hal-hal yang belum diatur dan belum rinci akan diatur di kemudian hari apabila diperlukan.


About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: